|

Post Politik Agama Pemecah Keberagaman

  • Kategori : Opini Publik | Diposting Oleh: Faisol Ahmad
    Hari Selasa | 15 Januari 2019 | 06:38:27 WIB | Dibaca: 135 Pembaca
Post Politik Agama Pemecah Keberagaman

KataSahabat.com - Oleh : Sulthoni, S.Sy., S.H. (Sekretaris LAKPESDAM PCNU Lumajang)

Di smartphone saya sekitar ada 67 WhatsApp Grup dengan berbagai orientasi yang variabel. Pada dasarnya perhimpunan WAG adalah forum saling sapa silaturahmi tanpa bertatap muka, orientasi ini mulai berubah terhitung sejak di tetapkan nya pasangan capres-cawapres 2019, ratting chatting WAG ini berada di tensi yang tidak normal.


Begitu rentan perdebatan yang tujuan awal bukan menalar kebenaran, Awal mula pemicu munculnya permusuhan adalah beradu statement yang masing-masing punya legitimasi atas argumentasinya.


Tujuan pencipta broadchasting narasi ujaran kebencian dan hoax tidak lain hanya soal keberpihakan, terbentuknya militansi pendukung politik yang irrasional, membentuk lingkaran-lingkaran kubu, kebal akan data fakta otentik, kenyang akan benih kebencian terhadap lawan politik.


Di negara dengan penduduk mayoritas Muslim, issue agama laris di pasaran, sekali lapak di luncurkan berjuta-juta kasat mata berebut membaca. Fanatisme pendukung yang militan menguntungkan pedagang, cukup dengan modal mengetik narasi sembari petangkringan di warung kopi, pedagang sudah mampu mengumpulkan pundi-pundi dukungan. Tidak peduli seberapa banyak torehan prestasi, terpenting hasil ijtihad ulama-nya harus di patuhi. Orang yang berkepentingan tinggal memainkan peran seakan bahwa hanya dirinya yang tidak akan mengkriminalisasi ulama dengan slogan bela Agama berjilid-jilid.


Produsen Issue hoax, sentimen suku, agama, ras dan antar golongan tidak tau menau soal dampak atas ulahnya. Di media sosial ter copy paste berselancar liar mempengaruhi pembaca dengan tingkat keimanan dan kebangsaan yang rendah. Mayoritas dari kita adalah orang yang malas membaca realita secara utuh, buku sebagai representasi literasi yang bisa dipertanggung jawabkan hampir tidak tersentuh, lahirlah kaum pembaca bersumbu pendek mempercayai skenario rekayasa yang seolah menjadi fakta, sumber informasi melalui media sosial, cukup membaca sepenggal opini seakan sudah faham dan berusaha menyimpulkan keadaan.


Saya memilih diam menyimak forum grup discuss yang selalu debateble, Sebab bagi saya tidak ada waktu untuk nimbrung ikut-ikutan berdebat, nganggur membaca seluruh chatting itu sudah pekerjaan yang sangat melelahkan. Sejatinya Agama dan politik mempunyai visi dan tujuan yg sama, mensejahterakan ummat, semua hukumnya melarang kemungkaran, menyeru berbuat baik kepada siapun.


Tidak ada perintah dari keduanya yang berbenturan dengan nilai humanisme dan keberlangsungan kehidupan sosial. Maintenance ajaran keduanya tertata rapi yang masing-masing punya fungsi kontrol timbal balik kepada pelakunya. Prototipe Agama dan politik adalah alat pemersatu, pun juga pembelah persatuan, tergantung sejauh mana keduanya di pergunakan oleh pelaku yang berkepentingan.


Moment politik, Agama menjadi post strategi propoganda people power menggiring opini keberpihakan dan menjatuhkan lawan politiknya. Tidak peduli hoax, cukup dengan narasi menarik, efektif mendakwahkan fitnah dan ujaran kebencian, meraup share dan copy paste sebanyak-banyaknya yang berujung pada perdebatan dan perpecahan antar sesama.


Sebagai Negara yang beragam, peluang sekte perpecahan angkanya naik drastis menjelang pemilu, Alat tunggang politik dengan biaya yg sangat murah, orang akan seketika subversif ketika di sentuh keyakinannya.
Dan lagi saya ini penganggur, meladeni perdebatan di media sosial adalah orang yang kurang pekerjaan, masih banyak aktivitas non produktif lainnya yang lebih asyik dan kekinian. Bersyukurlah saya masih di beri kenikmatan menyeduh kopi yang di tuang pada lepekan dan saya sruput pakai sedotan.


Berita Terkait